MENCIPTAKAN INSAN ILMIAH KARIMAH

Minggu, 09 Januari 2011

KESUCIAN HATI TONGGAK KEINDAHAN BERBANGSA

Anakku sayang, kejadian demi kejadian mengenai kebobrokan dan keterpurukan negara ini, hanyalah wacana riak kecil dari segunung kasus kejahatan yang memang belum dan susah terungkap. Para petinggi negeri ini, barisan intelektual, para pemerhati dan pengamat, para peneliti dan tim ahli, beramai-ramai untuk mengungkap makna sebuah peristiwa, dengan kata kunci ingin mengungkap sampai tuntas mengenai aneka sindikat kejahatan sampai ke akar-akarnya. namun lagi-lagi, itu hanyalah sebuah cerita dan cerita berevisode yang tak pernah ada ujungnya.
Anak-anaku sayang, kamu masih duduk di bangu sekolah tingkat SLTP, bersihkan hati, kencangkan niat, bulatkan tekad, untuk selalu berbuat jujur dan benar untuk diri sendiri. Karena dari sanalah tonggak kekuatan akan jujur terhadap keluarga, tetangga, masyarakat dan bangsa. Tanpa memiliki akhlak seperti itu, cerita kebohongan akan melegenda dan menggenerasi yang tak akan ada ujungnya. Nampaknya karena telah banyaknya penghuni negeri terbiasa berbohong, khianat, fasik, dzalim, lalim, terhadap diri sendiri, alhasil berbuntut dan menular kerusakan itu menimpa jua terhadap penghuni bangsa ini, yang kemudian turut menanggung beban bencana yang begitu berat dan pedih entah sampai kapan dan mungkin tak terhingga.

Minggu, 14 November 2010

KAMU HARUS SIAP-SIAP SEBAGAI DUTA JAMDA 2010/2011

Tanggal 24 s/d 30 Desember 2010, digelarnya pelaksanaan jambore daerah propinsi jawa barat. Para peserta jamda, terdiri dari utusan hasil penyeleksian di tingkat kwartir ranting ( Kwaran ) kecamatan, masing-masing satu putra dan satu putri. Mereka yang terpilih jelas adalah peserta terbaik hasil penyeleksian dalam berbagai bidang. Untuk peserta utusan dari kwaran cingambul, Alhamdulillah baik putra maupun putri , diwakili doleh siswa /i SMP PUI Muktisari dari kelas VIII. Selanjutnya menurut Ka Kwarcab Majalengka, para alumni Jamda ini, sebagai bakal calon peserta Jamnas. Selamat ya, kepada Adik Aje Abdul Rojab dan  Dini Herawati, semoga di Jamda nanti selain berprestasi, juga ada dalam maghfirah serta lindungan Allah SWT. Amien ..!

Kamis, 14 Oktober 2010

SELAMAT JALAN TOKOH PENDIRI SMP PUI SEMOGA AMAL MULIAMU DITERIMA DISISI-NYA

H EYO SURYADINATA BA, itulah salah seorang pendiri SMP PUI Muktisari, tadi pagi Kamis 14 Oktober 2010 telah berpulang kerahmatullah. Sosok ulama plus ilmuwan, telah banyak meninggalkan karya dan jasa selama hidupnya. Ia dikenal berpemikiran luas dan berpenampilan bersahaja.
Di lingkungan Organisasi dan Perguruan PUI, khususnya Kecamatan Cikijing dan Cingambul Kab. majalengka, sangat dekenal dan dekat dengan masyara. Perkenalan ia dengan masyarakat luas, melalui pendidikan, dakwah sosial dan silaturahmi, ia selain turut membesarkan MTs PUI Cikijing, MA BKMU, SMK PUI Cikijing, juga salah seorang deklarator berdirinya perguruan SMP PUI Muktisari Kec. Cingambul. Selamat jalan guru besar kami, semoga engkau mendapat tempat yang layak didisi-Nya. Amien

Sabtu, 06 Maret 2010

TAK ADA GADING YANG TAK RETAK


Akrobat politik sidang paripurna DPR RI telah usai. hasil keputusannya pun telah gamblang dan terang benderang dalam pemikiran, nurani serta kejelasan pokok masalah bank century, sebagai akhir kemelut dan polemik yang berkepanjangan bagi seluruh penghuni bumi nusantara.
Idrus Marham selaku ketua PANSUS bank century dalam pemaparan akar persoalan mengenai kasus bank century di hadapan seluruh anggota dan praksi DPR RI, telah begitu jelas melaporkan, yang kesimpulannya ada tiga landasan masalah yang harus segera diputuskan oleh wakil rakyat. pertama, landasan hukum mengenai kewenangan memberikan dana talangan terhadap bank tersebut. Kedua, apakah pengambil kebijakan tersebut melanggar hukum atau tidak, ketiga, apakah kasus tersebut dipandang perlu memasuki ranah hukum.
Mensikapi persoalan itu, perjalanan debat yang begitu menegangkan, berakhir dengan putusan vooting terbuka dengan skor akhir dimenangkan oleh opsi C, yang menyatakan bahwa kebijakan salah dan pelaksanaan salah. Hasil akhir partai pemenang pemilu dan koalisi kalah.
Memanasnya para anggota dewan di dalam persidangan, sama panasnya dengan terik matahari yang dibarengi dengan membabibutanya para demonstran. Kesimpulan akhir sementara, pemerintah terluka, para anggota dewan terluka dan komponen masyarakat terluka, akibat tak terkendalikannya nilai emosional. itulah gambaran umum potret pangung demokrasi yang terjadi di negeri ini.
Tulisan ini, bukanlah bermaksud mengikuti opini publik yang dalam kasus itu terbelah dua pendapat yang sama sama mengklaim pembenaran dan menyalahkan. Namun sebagaimana hukum kita, nampaknya kita lebih setuju untuk sementara kepada asas praduga tak bersalah. Artinya apa yang diperdebatkan di panggung politik bangsa ini kita belum mampu memvonis apakah benar atau salah.
Kita tinggalkan dulu sejenak kasus century yang begitu hebatnya menyapu perhatian negeri ini, sehingga melupakan terhadap esensi diri kita masing-masing. Bisa jadi kita berteriak memvonis dan menyalahkan orang lain sementara kita tak sadar diri bahwa sesungguhnya diri kitapun telah banyak melakukan kejahatan yang tertutupi rapat dan belum diketahui orang. Pormat ini sudah menjadi tradisi dalam kepribadian kita dan secara sunatullahpun, sangat tidak mau sekali dipersalahkan orang.Itulah ciri khas sosok makhluk hidup yang diberi nama manusia.
Dengan demikian setiap orang, siapapun orangnya jelas jelas akan mengalami kelemahan, kekurangan, kehinaan, dan kesalahan. Biarkanlah hukum yang berbicara dan bertindak, yang salah harus dijatuhi hukuman sesuai perbuatanya, yang benar jangan merasa paling benar, sebab manusia tidak ada yang sempurna. Dengan kata lain tak ada gading yang tak retaaaaaaaaak.

Senin, 30 November 2009

SEJARAH BERDIRINYA SMP PUI MUKTISARI KEC. CINGAMBUL KAB. MAJALENGKA

Pada tanggal 14 Maret 1995, dilaksanakan pertemuan antara para tokoh PUI Kec. Cikijing, seperti KH.Ma'mun Ghani, KH.Bahar, KH Eyo Suryadinata, BA, Drs. M.Maksum, H.Sukanda, KH. Sutarom dan KH. Amin, dengan Sdr Eba Muhamad Fauzi, bertempat di rumah KH. Ma'mun Ghani, dengan tujuan perealisasian pendirian perguruan PUi di sekitar Kec.Cingambul.
Pada Tanggal 12 April 1995, Sdr Eba Muhamad Fauzi, menemui KH Chalid Fadlullah SH, selaku Ketua Umum PB PUI di Jakarta, dengan tujuan memohon restu dan dukungannya untuk mendirikan lembaga pendidikan tingkat SLTP di bawah naungan badan hukum Organisasi PUI.
Pada tanggal 02 Mei 1995, yang bersamaan dengan peringatan hari pendidikan nasional, berita acara akta pendirian lembaga pendidikan Formal tingkat SLTP, disepakati dan disetujui oleh PC PUI Kecamatan Cikijing.
Pada tanggal 08 Juni 1995, berita acara dan akta pendirian lembaga pendidikan tingkat SLTP, yang diberi nama MTs PUI Karangsari, dilaporkan ke Kantor Departemen Agama Kabupaten Majalengka. dan sekaligus memohon izin operasional kepada Bupati Majalengka, yang kemudian ditindaklanjuti ke Kanwid Depag Proipinsi Jawa barat dan Gubernur Jawa Barat, sampai ke Kantor Departemen Agama RI dan Kantor Mendiknas RI.
Pada tanggal 09 Juni 1995, PC PUI Cikijing, mengangkat dan menetapkan Sdr Drs Eba Muhamad Fauzi, sebagai Kepala MTs PUI Karangsari. Tetapi Titimangsa Tugas ditetapkan pada tanggal 08 Juli 1995.
Pada Tahun pelajaran 1995/1996, MTs PUI Karangsari dioperasionalkan dan mulai menerima calon murid baru, dan tercatat 42 siswa pendaftar dan diterima.
Pada tahun pelajaran 1997/1998, MTs PUI Karangsari mengikuti ujian nasional pertama kali, dengan jumlah peserta 42 siswa, dengan hasil lulus 100 %, kemudian mewisuda angkatan pertama.
Pada tanggal 02-02-2002, peletakan pertama pembangunan sekolah oleh Drs. Udin Abidin selaku Camat Cingambul.
Memperhatikan perjalanan dan keberadaan sekolah, terus mengalami pluktuasi, maka pada tahun pelajaran 2004/2005, MTs PUI Karangsari, berubah Status/nama, menjadi SMP PUI Muktisari, sampai sekarang.
Sejalan dengan perubahan status kelembagaan inilah, mulai pesatnya pembangunan fasilitas pendidikan, yang diiringi dengan menaiknya animo para orang tua/wali murid untuk menyekolahkan anaknya ke lembaga tersebut.

Selasa, 24 November 2009

DARI ARENA PELANTIKAN KEPENGGALANGAN DI ARGALINGGA


Argalingga adalah sebuah desa yang berada di bawah kaki gunung Ciremai, dengan ketinggian 2400 di bawah permukaan laut. Desa ini masuk kedalam wilayah administratif Kec. Argapura, Kab. Majalengka. Alam yang indah, udara yang sejuk, tanah yang subur, mata air mengalir begitu jernih, hijaunya hamparan lahan pertanian, tegak dan kokohnya puncak gunung Ciremai, membuat peserta perkemahan pelantikan kepenggalangan Pangkalan SMP PUI Muktisari, terasa terbuai.
Pagi itu, Sabtu, 7 Nopember 2009, memasuki hari kedua kegiatan perkemahan, kabut mulai turun, hujan turun rintik-rintik, angin sepoi-sepoi, hawa dingin semakin menggamit kulit, seolah peserta perkemahan enggan beranjak dari dalam tenda.
Hari semakin siang, cuaca mulai cerah, matahari bersinar kembali, menghangatkan tenda-tenda yang berjajar dan tubuh-tubuh yang hampir kaku, pembina memberikan aba-aba, waktu telah tiba permainan wide game segera dimulai, dengan materi membelah alam sebagian kaki gunung Ciremai, untuk didaki dan diketahui, aneka pohon, bukit karang, lembah ngarai, dan aneka sepesies tanaman untuk diteliti.
Pada sore hari, anak-anak masih tampak begitu lelah, namun semangat patriotisme begitu menggebu, melanjutkan program, sosialisasi silaturahmi dengan masyarakat setempat dan berakhir dengan catatan segudang pengalaman.
Malam hari tiba, prosesi penyulutan api unggun dimulai, tak lama kemudian, api membahana, menerangi alam semesta, langit argalingga. Dalam sebuah amanat pembina, api adalah sahabat kita, kebutuhan kita, penerang kita, kehidupan kita. Tanpa api, apalah artinya manusia, apalah artinya dunia. Api adalah kisah dan lambang kehidupan sejati, yang selalu memberikan manfaat kepada semua manusia, sebab itu, TEMUKANLAH JATIDIRMU, seperti api yang selalu dibutuhkan setiap saat. Namun, janganlah berapi-api, jangan pula coba-coba bermain api, sebab akan terbakar pula nanti, dan akan menerima akibat yang cukup menyakitkan dan mengerikan. Ujar Kak Dede Kosasih, selaku pembina pendamping putra dalam pidatonya sambil berapi-api.

Senin, 23 November 2009

KATUMBIRI


Dina dinten Senen, ping 23 Nopember 2009, ba'da zuhur saatosna rengse pagawean ti sakola, kuring pamitan ka pun bojo. Cling we miang ka sawah, maksadna rek ngalongok nu keur digarawe, oge tos sono sakalian ngalongok pelak bawang sumenep, anu karek umur 35 poe.
Sadongkapna ka sawah, pagawean teh geuning tos rengse, nu digarawe titah aruih, ari kuring sumarimpang ngalongok heula pelak bawang. Enya we bawang teh karek ngabong soran dauna wungkul, masih jajauheun ka beutian mah. Keur luha-loho, katingali jembrungna jukut dina biwir pecalan pelak bawang, atuh kutuyap we kuring teh nyabutan jukut anu ngajalebrig ngahieuman kana tangkal bawang.
Waktu keur solot-solotna digawe, ti beh kidul kadangu sora mani nyeor, sihoreng hujan keur mapay ka beh kulon jeung kaler.Teu lila hujan datang, kuring buru-buru ngiuhan ka saung bising baraseuh. Enya we hujan teh rada gede, bari dibarengan ku poyan. Pikir kuring, ieu sugan nu disebut hujan poyan teh.
Sabab kesel nungguan hujan raat, kuring inget, yen dina jingjingan, masih keneh aya bebekelan, sarupaning termos, caina masih keneh panas, gula, kopi, sesepeun, masih aya. kulutrak we ngaluarkeun cangkir, tuluy ninyuh kopi. Hujan ngaririncik keneh, seungit kopi mani meleber. Gap cangkir diangkat, regot-regot 2 regotan, mani karasa haneut kana tikoro nu ka tirisan. Yap kana ududeun, di kaluarkeun sabatang jarum coklat, cekes disundut ku gasolin, sedut diseuseup haseupna, tuluy di kaluarkeun, haseupna mani meledug ngapung mapay ka awang-awang, nikmat ....!
Haseup roko nu ngelebung ka luhur, dituturkeun ku teuteupan panon kuring. Ari waktu tanggah ka langit, ari breh teh katumbiri mani nyacas endah, katingali warna-warni melengkung kuwungkuwungan.
Carita kolot baheula, eta teh, nyiputri turun ti kahiangan rek marandi ka alam mayapada. Gerentes hate kuring, tungguan nyi-Putri, kuring ngilu mandi, ngilu kana taraje katumbiri, bawa ka suarga manikloka, sakalian hayang tepang sareng Kakang Panjinarada, oge hayang sewu dawuh jeung Sangiang Otipati Prabu Batara Guru, anu nyalikan Singgasana Suarga Manikloka, sugan engke disoroan deui kopi haneut, ku Nyi Drupadi, Bidadari anu panggeulisna jeung pang endahna sa karaton Suargamanikloka.
Keur anteng ngalamun, keresek-keresek ti pipir, sihoreng kadal keur beberung, bari hujan teh sihoreng geus raat, ngalamun rengse. Cag sakitu ...!